Latest News

Showing posts with label akhir abad ke-19. Show all posts
Showing posts with label akhir abad ke-19. Show all posts

Thursday, August 15, 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja (6)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 21 memperlihatkan nelayan dan kegiatannya. Di sini juga yang menjadi pembeli, atau yang menghampiri, adalah warga Belanda; di mana para perempuannya memakai kain dengan kebaya panjang putih.
Menjelam � melempar jala
Orang mendjala � nelayan dengan jala
Toekang goerami � tukang gurami
Toekang kapiting � tukang kepiting
Toekang tambra mas � tukang tambera mas
Toekang tiram � tukang tiram

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 22: Seperti halnya di halaman 7, bagian ini memperlihatkan berbagai macam sarana pengangkutan, tapi kali ini dengan dominasi transportasi perairan.
Djangkar � jangkar.
Kapal api � kapal api (Uap)

Kar�ta tramwih � kereta trem
Kemoedi � kemudi (kapal)
Koeda pikoelan � kuda pikulan
Prahoe badawang � perahu badawang (?)
Prahoe kojan � perahu koyan (?)
Prahoe kroewis � perahu penjelajah
Prahoe majang � perahu mayang
Tandoe tjina � tandu Tionghoa
Tangkap ikan � menangkap ikan

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 23 berisi aneka hal yang tampaknya terjadi di rumah besar seorang tuan Belanda, seperti datangnya tukang arang untuk isi ulang setrikaan, hingga ke pembantu yang main congklak. Ada pula tukang pinatu yang mengambil cucian, di mana di ibu Belanda tampak digambarkan juga memakai kain dan kebaya panjang putih.
Catatan: Dua perempuan bermain congklak mengingatkan pada sebuah posting lama di blog ini.
Main tjongkak (Dakon) � bermain congklak (dakon)
Papan toekang minatoe � papan cuci
Strika � setrikaan
Toekang arang � tukang arang
Toekang minatoe ambil barang � tukang penatu mengambil barang
Toekang potong roempoet � tukang potong rumput
Toekang sapoe � tukang sapu

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 24 atau terakhir menampilkan lagi pedagang, kali ini penjual buah-buahan dan hewan peliharaan. Para pedagang ini ditampilkan tidak mengenakan baju, yang tampaknya memang menunjukan keadaan sebenarnya di masa itu; misalnya pedagang buah, contoh yang fotonya bisa dilihat di posting ini.
Boeroeng gelatik djinak � burung gelatik jinak
Toekang boeroeng bel�k�t � tukang burung ???
Toekang boeroeng serindit � tukang burung serindit
Toekang boewah-boewah � tukang buah-buahan
Toekang kalkoen (ajam blanda) � tukang kalkun (ayam Belanda)
Toekang kelintji � tukang kelinci




Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Tuesday, August 13, 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja (5)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 17 berkaitan dengan kerbau dan pemanfaatannya.
Kandang karbo � kandang kerbau
Meloekoe � meluku (=membajak)
Pedati � pedati
S�r�t tebangan � menyeret tebangan (pohon)

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 18 menampilkan kegiatan anak-anak dan orang dewasa atau profesinya, serta pedagang dari etnik Arab dan Tionghoa. Gambar orang menggotong penyu lumayan mirip dengan sebuah foto tua yang pernah dimuat di blog ini.
Angon karbo � menggembala kerbau
Main goendoe � bermain kelereng
Mengantar � mengantar/membawa (upeti)
Pikoel koera-koera � memikul kura-kura
Tjat toedoeng � mencat caping
Tjina toekang babi � Tionghoa pedagang (daging) babi
Toekang laksa � tukang laksa
Toekang minatoe � tukang penatu
Toewan Said � pedagang Arab

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 19: Di akhir abad ke-19 wilayah Nusantara belum mengenal radio, telepon, apalagi televisi dan sarana komunikasi yang lebih modern lagi. Telegrafi sudah dikenal, tetapi kemungkinan pemakaiannya masih terbatas, misalnya hanya untuk jalur kereta api yang saat itupun baru dirintis pembangunannya. Walhasil, media komunikasi yang utama adalah pos.
Sementara itu, transportasi bermotor belum muncul; jadi belum ada mobil apalagi pesawat terbang. Maka, metode pengantaran pos masih menggunakan cara yang sudah dipakai beratus-ratus tahun, yaitu menggunakan kereta kuda, atau hanya kuda untuk pos yang sifatnya segera atau kilat.
Boekoe soerat � buku (register) surat
Kahar pos � kereta pos (2 kuda)
Kahar pos � kereta pos (4 kuda)
Kartoe pos � kartu pos
Naik goenoeng � naik gunung
Pos toenggang koeda � pos tunggang kuda (kilat)
Soerat � surat
Toekang pos � tukang pos
Toeroen goenoeng � turun gunung

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 20: Seperti disebut di atas, transportasi jarak jauh masih mengandalkan kuda. Halaman ini memperlihatkan hal dan peran yang terkait dengan sarana perhubungan ini; yang tampaknya terkait dengan kalangan berada saja. Perlu pula dicatat dari dua halaman terakhir ini bahwa tampaknya kusir dan loper (pengawal, asisten) tampaknya memiliki topi seragam tersendiri yang dibedakan dengan warna.
�mb�r � ember (untuk minum kuda dan rumput)
Ganti koeda � mengganti kuda
Koentji kar�ta � kunci kereta
Koesir � kusir
Lopor minta pres�n � loper meminta persen (tip)
Tjilaka � kecelakaan



Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Sunday, August 11, 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja (4)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 13 adalah satu-satunya bagian tanpa terjemahan bahasa Belanda. Ini bisa dipahami karena halaman ini berisi peralatan musik tradisional (Inlandsche Musiek-Instrumenten) yang tidak ada nama Belandanya.
Bonang � bonang
Gambang kajoe � gambang kayu
Gend�r � gender
Gong � gong
Grinding � gerinding
Kendang � kendang
Kenong � kenong
Rebab � rebab
Soeling � suling

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 14: Wilayah Nusantara sangat kaya akan berbagai jenis hewan. Buku ini memilih hanya sembilan macam, terutama binatang yang tidak ada di negeri Belanda jauh di sana.

Babi roesa � babi rusa
Badak � badak
Daoen goerita � belalang daun
Gadjah � gajah
Kaladjengking � kalajengking
Kelabang � kelabang
Matjan � macan (sebenarnya: harimau)
Monj�t � monyet
Tok� � tokek

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 15 memperlihatkan beberapa aktifitas dan profesi, misalnya pengasuh anak bule atau pedagang durian. Di halaman ini pula muncul tiga jenis pedagang Tionghoa; dan dari halaman ini pula kita mengenal asal muasal istilah "toko kelontong". Halaman ini memperlihatkan benda yang namanya "kelontong", yaitu alat dari bambu/kayu yang akan berbunyi jika digoyangkan. Bunyi ini yang memberitahu warga bahwa ada pedagang lewat di dekat rumah mereka. Sekarang, meskipun si pedagang sudah menempati toko permanen, dan tidak perlu lagi mengeluarkan bunyi-bunyi, nama "toko kelontong" tetap bertahan.
Satu catatan lagi: Di gambar Tjina klontong kain diperlihatkan pembelinya adalah seorang wanita Belanda yang mengenakan kain dan kebaya panjang putih. Ini memang mode di beberapa kalangan perempuan Belanda saat itu.
Baboe sama anak � pengasuh dan anak (Belanda)
Bawa makanan � pembawa makanan
Klontong � kelontong
Siram djalan � menyiram jalan
Soedara-soedara � saudara (adik)
Tjina klontong bakoel � Tionghoa pedagang pikulan
Tjina klontong kain � Tionghoa pedagang kain
Tjina toekang goela � Tionghoa pedagang gula
Toekang doerian � tukang durian

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 16 menambahkan dua profesi, yaitu pengasuh anak dan Tionghoa penjual kue, serta berbagai kegiatan warga lokal sehari-hari. Seperti halnya di halaman sebelumnya, pedagang Tionghoa digambarkan memakai baju putih dan celana dengan rambut taucang, serta umumnya beralas kaki; sementara lelaki lokal terkadang telanjang dada, terkadang memakai baju, tapi hampir selalu nyeker dan memakai tutup kepala.
Baboe � pengasuh anak
B�kin djala � membuat jala
Belah-belah bamboe � membelah bambu
Gosok pisaw � mengasah pisau
Koepas kalapa � mengupas kelapa
N�n�k mendjahit � nenek menjahit
Pegi mandi � pergi mandi
Takar bras � menakar beras
Tanggok oedang � menangguk udang
Tjina toekang koew�h � Tionghoa pedagang kue


Waktu: akhir abad ke-19 Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Saturday, August 10, 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja (3)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 9: Leluhur kita di abad ke-19 boleh jadi tidak akan menyangka bahwa ada tradisi dan kebiasaan mereka sehari-hari yang sekarang menjadi punah dan tidak lagi dilakukan orang. Di zaman mereka, menyirih adalah hal yang bukan cuma lumrah, tapi sudah menjadi bagian dari aktifitas harian. Tidak heran apabila ada banyak peralatan yang menyertai kegiatan ini, yang kesemuanya sekarang hampir tidak dikenal lagi. Buku ini memberikan daftarnya.
Daoen � daun (pinang)
Katjip � kacip (gunting pembelah pinang)
Kebon sirih � kebun sirih
Makan sirih � memakan sirih
Pinang � (buah) pinang
Tampat daoen � tempat daun
Tampat gambir � tempat gambir
Tampat kapoer � tempat kapur
Tampat loedah � tempat (air) ludah
Tampat pinang � tempat pinang
Tampat sirih � tempat sirih (kosong)
Tampat sirih � tempat sirih (berisi peralatan)
Tampat sirih orang ketjil � tempat sirih rakyat kecil
Toetoepnja � tutup (tempat sirih)

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 10: Kopi adalah minuman favorit orang Indonesia, meski kemudian sempat terdesak oleh sirup, limun, minuman bersoda, minuman berenergi, dsb. dan sekarang populer lagi dalam variasi modernnya. Buku ini merekam kedekatan orang Indonesia zaman dulu dengan buah pahit ini.
B�kin koppi � membuat kopi
Djemoer koppi � menjemur kopi
Giling koppi � menggiling kopi
Goedang koppi � gudang kopi
Gor�ng koppi � menggoreng kopi
Petik koppi � memetik kopi

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 11: Selai bertani (lihat no. 12 di bawah) orang Indonesia juga berdagang. Halaman ini memperlihatkan sembilan jenis pedagang lokal. Kita akan lihat nanti jenis pedagang lainnya. Perlu dicatat: Paling tidak ada tiga jenis pedagang yang sekarang ini sudah punah, yaitu pedagang kayu (bakar), sirih, dan tembakau.
Toekang ajam � tukang ayam
Toekang kajoe � tukang kayu (bakar)
Toekang kembang � tukang kembang
Toekang nanas � tukang nanas
Toekang rempah-rempah � tukang rempah-rempah
Toekang sirih � tukang sirih
Toekang tambako � tukang tembakau
Toekang tjab� � tukang cabai
Toekang tjinjtao � tukang cincau

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 12: Masyarakat Indonesia zaman dulu umumnya petani. Buku ini menampilkan beberapa hal yang terkait dengan sawah, padi, serta beras ini. Para petani ditampilkan telanjang dada, sementara yang perempuang mengenakan kebaya atau baju kurung serta kain; semuanya tanpa alas kaki. Dan ini seharusnya mencerminkan keadaan yang sesungguhnya.
Orang meloekoe � orang membajak
Panggilingan padi didalem � penggilingan padi (tampak) di dalam
Panggilingan padi diloewar � penggilingan padi (tampak) di luar
Poelang potong padi � pulang (setelah) memotong padi
Potong padi � memotong padi
Tampi bras � menampi beras


Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Wednesday, August 7, 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja (2)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.


(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Halaman 5: Sudah sejak zaman dulu tidak semua orang Indonesia makan di rumah. Pekerjaan atau kegiatan mereka membuat mereka harus makan dan minum di warung. Buku ini menggambarkan siapa dan apa yang bisa dilihat di warung saat itu.
Bakoel nasi � bakul nasi
Dapoer � dapur
Gendi � kendi (untuk tuang air ke cawan)
Gendi moeloet � kendi (untuk tuang air ke mulut)
Kipsao � teko
Koekoesan � kukusan
Koeli minoem kopi � kuli minum kopi
Kompor � kompor
Manggis � manggis
Mangkok-mangkok � mangkok
Nanas � nanas
Palita � pelita
Perijoek � periuk
Piring-piring sama glas � piring dan gelas
Sisir pisang � sesisir pisang
Waroeng � warung

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 6: Jika halaman 1 memperlihatkan rumah tembok tuan Belanda, makan halaman ini memperlihatkan rumah kebanyakan warga Indonesia: dari anyaman bambu dengan atap rumbia. Halaman ini menggambarkan pula kegiatan warga, umumnya para perempuan, di sekitar rumah.
Ambil aj�r pantjoeran � mengambil air pancuran
Gor�ng sambal � menggoreng sambal
Main sama anak � bermain bersama anak
Potong kajoe � memotong kayu
Roemah d�sa � rumah desa
Timba aj�r soemoer � menimba air sumur
Toemboek padi � menumbuk padi
Toemboek sirih � menumbuk sirih

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 7 memperlihatkan sarana transportasi darat dan sungai, seperti rakit, pedati, delman, dan kereta api. Saat itu masih ada pula alat transportasi dengan tenaga manusia murni tanpa bantuan alat mekanik: yaitu tandu, di mana penumpangnya bisa berbaring; serta joli, di mana si penumpang duduk sambil diangkut.
Djambatan bamboe � jembatan bambu
Djoli � joli
Kahar p�r � delman (dengan per)
Kar�ta api � kereta api
Kar�ta pos Toewan besar � rombongan kereta kuda Gubernur Jenderal
Pedati � pedati
Sasak � rakit
Tandoe � tandu

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 8: Di zaman ketika rumah penduduk hampir keseluruhannya terbuat dari kayu, bambu, rumbia, dan bahan mudah dilanda api lainnya, kebakaran adalah hal yang tidak sulit terjadi. Buku ini mendedikasikan satu halaman untuk menggambarkan bagaimana kebakaran rumah terjadi, siapa yang menanganinya, peralatan apa yang dipakai, dan bagaimana cara pemakaiannya.
�mb�r pompa � ember
Kampoeng angoes � kampung hangus
Mandoer pompa � mandor pompa
Pompa datang � pompa datang
Pompa main � pompa bekerja
Toewan Kommandan � komandan pemadam kebakaran
Tongtong � kentongan


Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum / Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Tuesday, August 6, 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja (1)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.

(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Halaman 1: Buku ini dimulai dengan menampilkan rumah Belanda dan para warga lokal yang bekerja atau menjadi pembantu di rumah tuan Belanda ini. Di sini kita akan melihat jenis-jenis profesi yang menjadi kebutuhan sebuah rumah pembesar. Perlu pula dicatat, bahwa para pekerja ini bisa hidup bersama keluarganya di rumah ini, sehingga anak-anak mereka pun terekam di buku ini.
Ajam-ajam � ayam
Anak boedjang � anak pembantu
Baboe anak � pengasu
Boedjang stal � petugas kandang kuda
Koesir � kusir
Kokki � juru masak
Paroet kalapa � memarut kelapa
Roemah blanda � rumah Belanda
Toekang kebon � tukang kebun
Toekang lampo � tukang lampu
Toekang mendjait � penjahit
Toekang sep�n � tukang pembawa makanan

(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Halaman 2: Pencurian tampaknya menjadi hal yang cukup sering terjadi, sehingga buku ini menampilkan satu halaman tersendiri dengan tema ini. Kita melihat para petugas keamanan, dengan orang Belanda sebagai komandan tentunya, peralatan mereka, dan bagaimana cara menangkap pencuri serta menahannya.
Menarik untuk dicatat adanya berbagai macam alat bernama "canggah" serta cara penggunaannya. Serta juga bahwa borgol saat itu bernama "rante" yang merupakan kalung logam yang dipasang di leher pencuri.
Gardoe � gardu
Kris � keris
Oppas � pembantu polisi
Orang rant� � pencuri yang tertangkap
Pendok � sarung keris
Rant� � borgol leher
Tangkap maling � menangkap maling
Tjanggah � canggah
Toewan skout � komandan polisi

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 3: Satu hal yang tampaknya mengesankan orang Belanda saat itu adalah berbagai jenis penggunaan bambu. Buku ini menampilkan beberapa contoh bagaimana orang Indonesia banyak memanfaatkan bambu untuk berbagai macam keperluan.
Almari dapoer � lemari dapur
Bale-bale � dipan (untuk tidur)
Bal�-bal� � dipan (untuk duduk-duduk)
G�t�k bamboe � rakit
Goeboek � saung
Kandang ajam � kandang ayam
Kar�ta anakan � kereta balita
Koeroengan � kandang burung
Pohon bamboe � pohon bambu
Soeling � suling
Soendoeng roempoet � pikulan rumput
Tangga � tangga

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 4 bernuansa warna hijau karena berisi berbagai macam pohon.
Boewah kalapa � buah kelapa
Boewah pinang � buah pinang
Gajoeng � gayung
Pohon ar�n � pohon aren
Pohon kalapa � pohon kelapa
Pohon kapok sama kawat � pohon kapuk dengan kawat telegraf
Pohon lontar � pohon lontar
Pohon pinang � pohon pinang
Pohon pisang � pohon pisang
Pohon pisang kipas � pohon pisang kipas
Pohon waringin � pohon beringin
Tandan pisang � tandan pisang

Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum / Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Monday, June 17, 2019

Prajurit dan perwira KNIL dalam gambar dari akhir abad ke-19

Prajurit dan perwira KNIL kulit putih
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Pasukan KNIL dengan tenaga bantuan warga lokal
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Prajurit KNIL lokal (kiri) dan dari Afrika (kanan)
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Pasukan KNIL dari Afrika berlatih dalam pengawasan perwira Belanda. Pasukan "londo item" seperti ini dikerahkan a.l. oleh Belanda dalam perang Diponegoro.
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)

Waktu: antara 1890-1900, kecuali gambar no. 3 dari 1874
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Tags