Latest News

Showing posts with label kebaya. Show all posts
Showing posts with label kebaya. Show all posts

Tuesday, October 29, 2019

Jawa 1936 menurut koleksi foto Zimmerman-van Rheenen: Wajah warga masyarakat

Selamatan
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Wajah kampung yang khas Jawa: rumah berdekat-dekatan, atau malah berhimpit-himpitan
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Pemain rebab
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Penjual air lahang
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Jual-beli di pasar
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Anak-anak berpose di dekat kakus; yang laki-laki bercelana atau berbaju monyet, yang perempuan berkebaya
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Waktu: 1936
Tempat: Jawa (kemungkinan Jakarta dan sekitarnya)
Tokoh:
Peristiwa: Foto-foto ini berasal dari koleksi Ny. Zimmerman-van Rheenen yang berkunjung dari Belanda ke Jakarta di tahun 1936 untuk melihat anaknya yang bekerja di sana. Foto-foto di atas menampilkan wajah masyarakat di kemungkinan sekitar Jakarta saat itu.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Thursday, October 24, 2019

Empat sketsa dan gambar warga Tionghoa zaman dulu

Main gaple
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
1888: Dua pedagang kain Tionghoa berjualan di rumah Belanda; di belakang adalah warga lokal pemikul kain
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
1888: Prosesi keagamaan warga Tionghoa
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Para kuli perkebunan Tionghoa
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)

Waktu: 1888 (antara lain)
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Monday, October 21, 2019

Jakarta 1895: Wilayah pecinan, kemungkinan di bilangan Pintu Kecil

(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Waktu: 1895
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Thursday, October 10, 2019

Dari album foto Mayor H.A.L. Wichers: Foto-foto perwira Belanda selama Perang Aceh, akhir 1890-an (2)

PENGANTAR

H.A.L. Wichers adalah seorang perwira KNIL di penghujung abad ke-19 yang sempat terlibat Perang Aceh dengan pangkat mayor. Dia meninggalkan album foto yang menampilkan tempat, manusia, dan suasana di beberapa tempat di tanah air saat itu. Berikut beberapa foto di antaranya.

Sekitar 1880: Para perwira Belanda di Seulimeum.
Ada dua wargalokal yang menyempil ikut berfoto di jajaran.
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
1895: Seorang kapten bersama istri, dan kemungkinan pembantunya, di perumahan perwira di Kutaraja.
Menarik untuk dicatat bahwa sang istri mengenakan kebaya.
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
1896/1898: Para perwira Belanda dalam patroli di sekitar Cot Mancang
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
1896/1898: Kantin khusus perwira di bivak Cot Mancang
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)

Waktu: 1880, akhir 1890-an
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Thursday, August 15, 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja (6)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 21 memperlihatkan nelayan dan kegiatannya. Di sini juga yang menjadi pembeli, atau yang menghampiri, adalah warga Belanda; di mana para perempuannya memakai kain dengan kebaya panjang putih.
Menjelam � melempar jala
Orang mendjala � nelayan dengan jala
Toekang goerami � tukang gurami
Toekang kapiting � tukang kepiting
Toekang tambra mas � tukang tambera mas
Toekang tiram � tukang tiram

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 22: Seperti halnya di halaman 7, bagian ini memperlihatkan berbagai macam sarana pengangkutan, tapi kali ini dengan dominasi transportasi perairan.
Djangkar � jangkar.
Kapal api � kapal api (Uap)

Kar�ta tramwih � kereta trem
Kemoedi � kemudi (kapal)
Koeda pikoelan � kuda pikulan
Prahoe badawang � perahu badawang (?)
Prahoe kojan � perahu koyan (?)
Prahoe kroewis � perahu penjelajah
Prahoe majang � perahu mayang
Tandoe tjina � tandu Tionghoa
Tangkap ikan � menangkap ikan

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 23 berisi aneka hal yang tampaknya terjadi di rumah besar seorang tuan Belanda, seperti datangnya tukang arang untuk isi ulang setrikaan, hingga ke pembantu yang main congklak. Ada pula tukang pinatu yang mengambil cucian, di mana di ibu Belanda tampak digambarkan juga memakai kain dan kebaya panjang putih.
Catatan: Dua perempuan bermain congklak mengingatkan pada sebuah posting lama di blog ini.
Main tjongkak (Dakon) � bermain congklak (dakon)
Papan toekang minatoe � papan cuci
Strika � setrikaan
Toekang arang � tukang arang
Toekang minatoe ambil barang � tukang penatu mengambil barang
Toekang potong roempoet � tukang potong rumput
Toekang sapoe � tukang sapu

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 24 atau terakhir menampilkan lagi pedagang, kali ini penjual buah-buahan dan hewan peliharaan. Para pedagang ini ditampilkan tidak mengenakan baju, yang tampaknya memang menunjukan keadaan sebenarnya di masa itu; misalnya pedagang buah, contoh yang fotonya bisa dilihat di posting ini.
Boeroeng gelatik djinak � burung gelatik jinak
Toekang boeroeng bel�k�t � tukang burung ???
Toekang boeroeng serindit � tukang burung serindit
Toekang boewah-boewah � tukang buah-buahan
Toekang kalkoen (ajam blanda) � tukang kalkun (ayam Belanda)
Toekang kelintji � tukang kelinci




Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Sunday, August 11, 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja (4)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 13 adalah satu-satunya bagian tanpa terjemahan bahasa Belanda. Ini bisa dipahami karena halaman ini berisi peralatan musik tradisional (Inlandsche Musiek-Instrumenten) yang tidak ada nama Belandanya.
Bonang � bonang
Gambang kajoe � gambang kayu
Gend�r � gender
Gong � gong
Grinding � gerinding
Kendang � kendang
Kenong � kenong
Rebab � rebab
Soeling � suling

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 14: Wilayah Nusantara sangat kaya akan berbagai jenis hewan. Buku ini memilih hanya sembilan macam, terutama binatang yang tidak ada di negeri Belanda jauh di sana.

Babi roesa � babi rusa
Badak � badak
Daoen goerita � belalang daun
Gadjah � gajah
Kaladjengking � kalajengking
Kelabang � kelabang
Matjan � macan (sebenarnya: harimau)
Monj�t � monyet
Tok� � tokek

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 15 memperlihatkan beberapa aktifitas dan profesi, misalnya pengasuh anak bule atau pedagang durian. Di halaman ini pula muncul tiga jenis pedagang Tionghoa; dan dari halaman ini pula kita mengenal asal muasal istilah "toko kelontong". Halaman ini memperlihatkan benda yang namanya "kelontong", yaitu alat dari bambu/kayu yang akan berbunyi jika digoyangkan. Bunyi ini yang memberitahu warga bahwa ada pedagang lewat di dekat rumah mereka. Sekarang, meskipun si pedagang sudah menempati toko permanen, dan tidak perlu lagi mengeluarkan bunyi-bunyi, nama "toko kelontong" tetap bertahan.
Satu catatan lagi: Di gambar Tjina klontong kain diperlihatkan pembelinya adalah seorang wanita Belanda yang mengenakan kain dan kebaya panjang putih. Ini memang mode di beberapa kalangan perempuan Belanda saat itu.
Baboe sama anak � pengasuh dan anak (Belanda)
Bawa makanan � pembawa makanan
Klontong � kelontong
Siram djalan � menyiram jalan
Soedara-soedara � saudara (adik)
Tjina klontong bakoel � Tionghoa pedagang pikulan
Tjina klontong kain � Tionghoa pedagang kain
Tjina toekang goela � Tionghoa pedagang gula
Toekang doerian � tukang durian

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 16 menambahkan dua profesi, yaitu pengasuh anak dan Tionghoa penjual kue, serta berbagai kegiatan warga lokal sehari-hari. Seperti halnya di halaman sebelumnya, pedagang Tionghoa digambarkan memakai baju putih dan celana dengan rambut taucang, serta umumnya beralas kaki; sementara lelaki lokal terkadang telanjang dada, terkadang memakai baju, tapi hampir selalu nyeker dan memakai tutup kepala.
Baboe � pengasuh anak
B�kin djala � membuat jala
Belah-belah bamboe � membelah bambu
Gosok pisaw � mengasah pisau
Koepas kalapa � mengupas kelapa
N�n�k mendjahit � nenek menjahit
Pegi mandi � pergi mandi
Takar bras � menakar beras
Tanggok oedang � menangguk udang
Tjina toekang koew�h � Tionghoa pedagang kue


Waktu: akhir abad ke-19 Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Tuesday, July 30, 2019

Buku belajar huruf "Indisch ABC" dari tahun 1910

Sampul buku Indisch ABC
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
A ... arit; B ... babu; C ... Cina
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
J ... jager (pemburu); K ... kerbau; L ... lutung: M ... mangga; N ... negro; O ... opas
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)

Waktu: 1910
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa: Buku Indisch ABC adalah buku Belanda untuk anak-anak berisi pengenalan huruf dengan mengacu pada hal-hal di Hindia-Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Sunday, July 14, 2019

Jenis-jenis pembantu di rumah Belanda zaman dulu dalam gambar

Babu
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Koki
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Jongos
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Tukang menjahit
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)

Waktu: masa penjajahan Belanda
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Monday, July 8, 2019

Propaganda Jepang: Para gadis bergotong-royong mencangkul, 1944

(klik untuk memperbesar | � BeeldbankWO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | � BeeldbankWO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1944
Tempat: kemungkinan Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa: Ini adalah bagian dari propaganda Jepang untuk mengajak semua kalangan masyarakat, termasuk wanita, untuk bersama-sama membantu Jepang dalam perang melawan Sekutu. Foto atas berasal dari majalah Djawa Baroe terbitan 15 April 1944.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Tuesday, May 28, 2019

Aksi Polisionil 1: Sebuah keluarga Belanda mengungsi, 1947

(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa: Ternyata di saat perang kemerdekaan, bukan hanya rakyat Indonesia yang harus mengungsi, warga Belanda pun harus meninggalkan kediaman mereka, seperti yang dialami keluarga Bloem ini. Tampak Pak Bloem (berbaju putih) ditemani istrinya (paling kanan) dan dua anak perempuannya (paling depan dan belakang) serta pembantunya yang membawa sepeda, pergi meninggalkan komplek perumahan mereka dengan latar belakang tentara Belanda berjaga-jaga. Tampak pula dua anak kecil digendong, serta satu bocah dituntun tanpa alas kaki. Menarik untuk dicatat bahwa para perempuan di keluarga Bloem ini mengenakan kebaya.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Tuesday, May 7, 2019

Beberapa wajah warga Nusantara dari akhir abad ke-19 ke awal abad ke-20

Sumatera, September 1885: Dua warga lokal menemani seorang pemburu Belanda. Di sekeliling tenda tampak kepala badak, banteng, serta kaki badak yang sudah dipotong.
(klik untuk memperbesar | � spaarnestad)
Bali(?), 1900-1910: Anak-anak bermain di sungai
(klik untuk memperbesar | � spaarnestad)
1913: Seorang ibu berkebaya bersama anak berbaju monyet di sebelah pohon kelapa yang lebat buahnya
(klik untuk memperbesar | � spaarnestad)
Jawa, 1918: Acara selamatan
(klik untuk memperbesar | � spaarnestad)

Waktu: 1885, 1900-an, 1913, 1918
Tempat: Bali(?), Jawa, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Sunday, May 5, 2019

Potret etnis Nusantara di studio foto, awal abad ke-20

Perempuan Bali
(klik untuk memperbesar | � spaarnestad)
Pasangan Batak Angkola/Mandailing
(klik untuk memperbesar | � spaarnestad)
Lelaki Tionghoa
(klik untuk memperbesar | � spaarnestad)
Perempuan di Jakarta(?)
(klik untuk memperbesar | � spaarnestad)
Perempuan di Jakarta(?)
(klik untuk memperbesar | � spaarnestad)

Waktu: antara 1880-1910
Tempat: studio foto di Jakarta(?)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Tags