Latest News

Showing posts with label tandu. Show all posts
Showing posts with label tandu. Show all posts

Saturday, October 26, 2019

Beberapa alat transportasi zaman dulu

Pedati, tandu dengan kabin, kereta kuda
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
1841: Tandu di Bangka dengan sistem pikulan dua tahap
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)

Waktu: 1841 (gambar kedua)
Tempat: Bangka (gambar kedua)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Thursday, August 15, 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja (6)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 21 memperlihatkan nelayan dan kegiatannya. Di sini juga yang menjadi pembeli, atau yang menghampiri, adalah warga Belanda; di mana para perempuannya memakai kain dengan kebaya panjang putih.
Menjelam � melempar jala
Orang mendjala � nelayan dengan jala
Toekang goerami � tukang gurami
Toekang kapiting � tukang kepiting
Toekang tambra mas � tukang tambera mas
Toekang tiram � tukang tiram

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 22: Seperti halnya di halaman 7, bagian ini memperlihatkan berbagai macam sarana pengangkutan, tapi kali ini dengan dominasi transportasi perairan.
Djangkar � jangkar.
Kapal api � kapal api (Uap)

Kar�ta tramwih � kereta trem
Kemoedi � kemudi (kapal)
Koeda pikoelan � kuda pikulan
Prahoe badawang � perahu badawang (?)
Prahoe kojan � perahu koyan (?)
Prahoe kroewis � perahu penjelajah
Prahoe majang � perahu mayang
Tandoe tjina � tandu Tionghoa
Tangkap ikan � menangkap ikan

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 23 berisi aneka hal yang tampaknya terjadi di rumah besar seorang tuan Belanda, seperti datangnya tukang arang untuk isi ulang setrikaan, hingga ke pembantu yang main congklak. Ada pula tukang pinatu yang mengambil cucian, di mana di ibu Belanda tampak digambarkan juga memakai kain dan kebaya panjang putih.
Catatan: Dua perempuan bermain congklak mengingatkan pada sebuah posting lama di blog ini.
Main tjongkak (Dakon) � bermain congklak (dakon)
Papan toekang minatoe � papan cuci
Strika � setrikaan
Toekang arang � tukang arang
Toekang minatoe ambil barang � tukang penatu mengambil barang
Toekang potong roempoet � tukang potong rumput
Toekang sapoe � tukang sapu

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 24 atau terakhir menampilkan lagi pedagang, kali ini penjual buah-buahan dan hewan peliharaan. Para pedagang ini ditampilkan tidak mengenakan baju, yang tampaknya memang menunjukan keadaan sebenarnya di masa itu; misalnya pedagang buah, contoh yang fotonya bisa dilihat di posting ini.
Boeroeng gelatik djinak � burung gelatik jinak
Toekang boeroeng bel�k�t � tukang burung ???
Toekang boeroeng serindit � tukang burung serindit
Toekang boewah-boewah � tukang buah-buahan
Toekang kalkoen (ajam blanda) � tukang kalkun (ayam Belanda)
Toekang kelintji � tukang kelinci




Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Wednesday, August 7, 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja (2)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.


(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Halaman 5: Sudah sejak zaman dulu tidak semua orang Indonesia makan di rumah. Pekerjaan atau kegiatan mereka membuat mereka harus makan dan minum di warung. Buku ini menggambarkan siapa dan apa yang bisa dilihat di warung saat itu.
Bakoel nasi � bakul nasi
Dapoer � dapur
Gendi � kendi (untuk tuang air ke cawan)
Gendi moeloet � kendi (untuk tuang air ke mulut)
Kipsao � teko
Koekoesan � kukusan
Koeli minoem kopi � kuli minum kopi
Kompor � kompor
Manggis � manggis
Mangkok-mangkok � mangkok
Nanas � nanas
Palita � pelita
Perijoek � periuk
Piring-piring sama glas � piring dan gelas
Sisir pisang � sesisir pisang
Waroeng � warung

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 6: Jika halaman 1 memperlihatkan rumah tembok tuan Belanda, makan halaman ini memperlihatkan rumah kebanyakan warga Indonesia: dari anyaman bambu dengan atap rumbia. Halaman ini menggambarkan pula kegiatan warga, umumnya para perempuan, di sekitar rumah.
Ambil aj�r pantjoeran � mengambil air pancuran
Gor�ng sambal � menggoreng sambal
Main sama anak � bermain bersama anak
Potong kajoe � memotong kayu
Roemah d�sa � rumah desa
Timba aj�r soemoer � menimba air sumur
Toemboek padi � menumbuk padi
Toemboek sirih � menumbuk sirih

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 7 memperlihatkan sarana transportasi darat dan sungai, seperti rakit, pedati, delman, dan kereta api. Saat itu masih ada pula alat transportasi dengan tenaga manusia murni tanpa bantuan alat mekanik: yaitu tandu, di mana penumpangnya bisa berbaring; serta joli, di mana si penumpang duduk sambil diangkut.
Djambatan bamboe � jembatan bambu
Djoli � joli
Kahar p�r � delman (dengan per)
Kar�ta api � kereta api
Kar�ta pos Toewan besar � rombongan kereta kuda Gubernur Jenderal
Pedati � pedati
Sasak � rakit
Tandoe � tandu

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 8: Di zaman ketika rumah penduduk hampir keseluruhannya terbuat dari kayu, bambu, rumbia, dan bahan mudah dilanda api lainnya, kebakaran adalah hal yang tidak sulit terjadi. Buku ini mendedikasikan satu halaman untuk menggambarkan bagaimana kebakaran rumah terjadi, siapa yang menanganinya, peralatan apa yang dipakai, dan bagaimana cara pemakaiannya.
�mb�r pompa � ember
Kampoeng angoes � kampung hangus
Mandoer pompa � mandor pompa
Pompa datang � pompa datang
Pompa main � pompa bekerja
Toewan Kommandan � komandan pemadam kebakaran
Tongtong � kentongan


Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum / Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Tags