Latest News

Showing posts with label transportasi. Show all posts
Showing posts with label transportasi. Show all posts

Friday, November 1, 2019

Tujuh tempat dalam sketsa zaman dulu

Pesisir Anyer, Banten
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Istana Bogor
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
1828: Benteng Belanda di Sambas
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Jembatan bambu di rute Tondano menuju Manado
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Pulau Beras, Aceh
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Makam Panembahan Sumenep, Madura
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Istana Sultan Tidore
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)

Waktu: abad ke-19
Tempat: Anyer, Bogor, Pulau Bras, Sambas, Sulawesi Utara, Sumenep, Tidore
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Thursday, October 31, 2019

Jawa 1936 menurut koleksi foto Zimmerman-van Rheenen: Wajah petani desa

Gembala bebek
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Gundukan padi
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Petani membawa padi dengan pedati
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Petani pulang dari sawah
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)

Waktu: 1936
Tempat: Jawa (kemungkinan Jakarta dan sekitarnya)
Tokoh:
Peristiwa: Foto-foto ini berasal dari koleksi Ny. Zimmerman-van Rheenen yang berkunjung dari Belanda ke Jakarta di tahun 1936 untuk melihat anaknya yang bekerja di sana. Foto-foto di atas menampilkan wajah petani pedesaan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Saturday, October 26, 2019

Beberapa alat transportasi zaman dulu

Pedati, tandu dengan kabin, kereta kuda
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
1841: Tandu di Bangka dengan sistem pikulan dua tahap
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)

Waktu: 1841 (gambar kedua)
Tempat: Bangka (gambar kedua)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Wednesday, October 23, 2019

Jakarta 1895: Warga Tionghoa Jatinegara dan perayaan Peh Cun

Pertokoan warga Tionghoa di Jatinegara
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Para "babah" Jatinegara dengan para pekerja lokalnya
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Perayaan Peh Cun di Kali Ciliwung di sekitar Jatinegara �
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
� yang tidak hanya dirayakan warga Tionghoa saja
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)

Waktu: 1895
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Monday, October 21, 2019

Jakarta 1895: Wilayah pecinan, kemungkinan di bilangan Pintu Kecil

(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Waktu: 1895
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Saturday, October 19, 2019

Jakarta 1895: Kali Ciliwung sebagai tempat mandi dan cuci

Ciliwung di Jatinegara dengan 3dipan dari bambu yang memungkinkan orang bisa duduk sambil mandi dan cuci
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Mandi dan cuci di Jatinegara �
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
� foto sebelumnya dari sudut pandanglebih jauh
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Mandi dan cuci di Molenvliet (sekarang kawasan Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk) �
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
� foto sebelumnya dari sudut pandang berbeda
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)

Waktu: 1895
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Thursday, October 17, 2019

Jakarta 1895: Bantaran Kali Ciliwung di sekitar Jatinegara

Bagian belakang dari area yang kemungkinan besar adalah perumahan Tionghoa
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Usaha binatu
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Tempat rakit "berlabuh" di mana orang melakukan mandi dan cuci
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Dua orang mencuci di dekat rakit yang memiliki "kabin"
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)

Waktu: 1895
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Tuesday, September 17, 2019

Jakarta, Oktober 1945: Bantuan kemanusiaan untuk warga Belanda (2)

PENGANTAR

Jakarta di sekitar bulan September dan Oktober 1945 berada di situasi yang tidak menentu. Jepang sudah kalah perang, tetapi bala tentaranya masih berada di mana-mana lengkap dengan persenjataannya. Indonesia sudah menyatakan diri merdeka, tetapi aparat negara dan pemerintahan masih dalam tahap pembentukan.

Belanda berusaha kembali ke Indonesia, tetapi di tanah airnya masih terkendala proses pemulihan setelah pendudukan Jerman, dan di Hindia-Belanda terkendala kenyataan bahwa para lelaki dewasa mereka dibuang Jepang ke Manchuria. Sisa-sisa lelaki Belanda berada di penjara militer Jepang, atau jompo dan sakit di penampungan darurat.

Sementara itu Inggris, atas nama pihak Sekutu, mendatangkan kesatuan tentara Indianya dengan tugas resmi mengurus sisa-sisa militer Jepang, tetapi bentrok dengan para pemuda Indonesia yang mencurigai Inggris mempermudah masuknya kembali Belanda ke Indonesia.

Di situasi ini, seorang fotografer bernama H. Ripassa berhasil membuat beberapa foto dari berbagai sudut Jakarta. Kemungkinan besar Ripassa ini seorang campuran Eropa-Asia sehingga dia memiliki berbagai kemudahan untuk bergerak dan mengambil foto. Seri ini akan menampilkan beberapa jepretan dia.

Lelaki Belanda yang masuk kategori jompo di tempat penampungan Mater Dolorosa
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)
Wanita Belanda antri untuk mendapatkan bantuan dari Palang Merah
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan proses pemindahan lelaki Belanda dari tahanan Jepang
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak dan wanita Belanda mantan penghuni kamp tahanan
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan September/Oktober 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sunday, September 8, 2019

Jakarta, Oktober 1945: Aktivitas tentara Jepang

PENGANTAR

Jakarta di sekitar bulan September dan Oktober 1945 berada di situasi yang tidak menentu. Jepang sudah kalah perang, tetapi bala tentaranya masih berada di mana-mana lengkap dengan persenjataannya. Indonesia sudah menyatakan diri merdeka, tetapi aparat negara dan pemerintahan masih dalam tahap pembentukan.

Belanda berusaha kembali ke Indonesia, tetapi di tanah airnya masih terkendala proses pemulihan setelah pendudukan Jerman, dan di Hindia-Belanda terkendala kenyataan bahwa para lelaki dewasa mereka dibuang Jepang ke Manchuria. Sisa-sisa lelaki Belanda berada di penjara militer Jepang, atau jompo dan sakit di penampungan darurat.

Sementara itu Inggris, atas nama pihak Sekutu, mendatangkan kesatuan tentara Indianya dengan tugas resmi mengurus sisa-sisa militer Jepang, tetapi bentrok dengan para pemuda Indonesia yang mencurigai Inggris mempermudah masuknya kembali Belanda ke Indonesia.

Di situasi ini, seorang fotografer bernama H. Ripassa berhasil membuat beberapa foto dari berbagai sudut Jakarta. Kemungkinan besar Ripassa ini seorang campuran Eropa-Asia sehingga dia memiliki berbagai kemudahan untuk bergerak dan mengambil foto. Seri ini akan menampilkan beberapa jepretan dia.

Dua prajurit Jepang berjaga di jalan yang tampaknya dipasangi barikade
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang tentara Jepang memeriksa mobil yang tampaknya disetiri warga Indonesia
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)
Sekelompok tentara Jepang diangkut truk militer
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)
Pertemuan di jalan antara seorang prajurit Jepang dan perwakilan militer Belanda (?)
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)
Tentara Jepang menjaga kantor Djawa Eihai yang semasa perang merupakan pemasok film propaganda agar rakyat Indonesia mendukung Jepang
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)
Sekelompok tentara Jepang memperbaiki jalan
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)
Suasan sepi di markas Kempetai, polisi militer yang ditakuti semasa perang;
sekarang Gedung Kementrian Pertahanan
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)
Waktu: kemungkinan September/Oktober 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sunday, August 25, 2019

Jakarta, Oktober 1945: Pembebasan warga Belanda dari kamp tahanan Jepang di Halimun (1)

PENGANTAR

Jakarta di sekitar bulan September dan Oktober 1945 berada di situasi yang tidak menentu. Jepang sudah kalah perang, tetapi bala tentaranya masih berada di mana-mana lengkap dengan persenjataannya. Indonesia sudah menyatakan diri merdeka, tetapi aparat negara dan pemerintahan masih dalam tahap pembentukan.

Belanda berusaha kembali ke Indonesia, tetapi di tanah airnya masih terkendala proses pemulihan setelah pendudukan Jerman, dan di Hindia-Belanda terkendala kenyataan bahwa para lelaki dewasa mereka dibuang Jepang ke Manchuria. Sisa-sisa lelaki Belanda berada di penjara militer Jepang, atau jompo dan sakit di penampungan darurat.

Sementara itu Inggris, atas nama pihak Sekutu, mendatangkan kesatuan tentara Indianya dengan tugas resmi mengurus sisa-sisa militer Jepang, tetapi bentrok dengan para pemuda Indonesia yang mencurigai Inggris mempermudah masuknya kembali Belanda ke Indonesia.

Di situasi ini, seorang fotografer bernama H. Ripassa berhasil membuat beberapa foto dari berbagai sudut Jakarta. Kemungkinan besar Ripassa ini seorang campuran Eropa-Asia sehingga dia memiliki berbagai kemudahan untuk bergerak dan mengambil foto. Seri ini akan menampilkan beberapa jepretan dia.



Kamp Halimun merupakan salah satu area di mana militer Jepang menginternir wanita dan anak-anak Belanda. Kamp yang terletak di sekitar pemakaman Menteng Pulo sekarang ini, merupakan komplek perumahan yang sudah berdiri sebelumnya, dan kemudian oleh pasukan Jepang ditutup sekelilingnya dengan pagar bambu yang dilengkapi dengan kawat berduri.

Setelah Jepang kalah perang, pasukan Inggris datang serta membebaskan kamp ini. Mereka juga mendatangkan beberapa lelaki Belanda dengan truk dari penjara militer Glodok.

Anak-anak berebut menaiki truk yang kemungkinan sebelumnya datang membawa tahanan Belanda dari penjara militer Glodok untuk dialihkan ke Kamp Halimun
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak Belanda gembira menyambut pembebasan kamp dari tangan pasukan Jepang.
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)
Truk disambut meriah saat memasuki gerbang kamp
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)
Tidak ada catatan tentang siapa para lelaki ini. Kemungkinan ini campuran antara warga Belanda yang sebelumnya dipenjara oleh Jepang, tentara Belanda yang ikut pasukan Inggris datang ke Indonesia, warga lokal yang terlibat dalam proses pengalihan tahanan dan pembebasan kamp.
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua tahanan Belanda yang kurus kering yang tampaknya dipindahkan pasukan Inggris dari penjara militer ke Kamp Halimun
(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan September/Oktober 1945
Tempat: Kamp Halimun (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Saturday, August 24, 2019

Jakarta 1860-an: Sarana transportasi

Pedati
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Kereta kuda milik tuan Belanda
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
delman
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)

Waktu: 1860-an
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Woodbury & Page | Universiteit Leiden
Catatan:

Tags