Latest News

Showing posts with label pembantu. Show all posts
Showing posts with label pembantu. Show all posts

Friday, October 25, 2019

Jakarta 1895: Wajah berbagai penghuni Jakarta

Empat warga Belanda dan seorang warga lokal, mungkin kusir, di depan sebuah gereja di Jatinegara
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Warga Jakarta di pasar Jatinegara
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Para sipir Belanda dan lokal di depan penjara yang kelak dikenal dengan nama "Penjara Cipinang"
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Sekelompok pembantu rumah tangga di sebuah rumah Belanda, terdiri dari sepen (pembawa minuman), koki, jongos, penjahit, dan anak dari salah seorang pembantu
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)

Waktu: 1895
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Thursday, October 10, 2019

Dari album foto Mayor H.A.L. Wichers: Foto-foto perwira Belanda selama Perang Aceh, akhir 1890-an (2)

PENGANTAR

H.A.L. Wichers adalah seorang perwira KNIL di penghujung abad ke-19 yang sempat terlibat Perang Aceh dengan pangkat mayor. Dia meninggalkan album foto yang menampilkan tempat, manusia, dan suasana di beberapa tempat di tanah air saat itu. Berikut beberapa foto di antaranya.

Sekitar 1880: Para perwira Belanda di Seulimeum.
Ada dua wargalokal yang menyempil ikut berfoto di jajaran.
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
1895: Seorang kapten bersama istri, dan kemungkinan pembantunya, di perumahan perwira di Kutaraja.
Menarik untuk dicatat bahwa sang istri mengenakan kebaya.
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
1896/1898: Para perwira Belanda dalam patroli di sekitar Cot Mancang
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
1896/1898: Kantin khusus perwira di bivak Cot Mancang
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)

Waktu: 1880, akhir 1890-an
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Thursday, August 22, 2019

Jakarta 1860-an: Profesi warga lokal

Penjahit, kemungkinan di sebuah rumah Belanda
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Jongos
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Bujang
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
Tukang kayu
(klik untuk memperbesar | � Universiteit Leiden)
 Waktu: 1860-an
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Woodbury & Page | Universiteit Leiden
Catatan:

Thursday, August 15, 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja (6)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 21 memperlihatkan nelayan dan kegiatannya. Di sini juga yang menjadi pembeli, atau yang menghampiri, adalah warga Belanda; di mana para perempuannya memakai kain dengan kebaya panjang putih.
Menjelam � melempar jala
Orang mendjala � nelayan dengan jala
Toekang goerami � tukang gurami
Toekang kapiting � tukang kepiting
Toekang tambra mas � tukang tambera mas
Toekang tiram � tukang tiram

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 22: Seperti halnya di halaman 7, bagian ini memperlihatkan berbagai macam sarana pengangkutan, tapi kali ini dengan dominasi transportasi perairan.
Djangkar � jangkar.
Kapal api � kapal api (Uap)

Kar�ta tramwih � kereta trem
Kemoedi � kemudi (kapal)
Koeda pikoelan � kuda pikulan
Prahoe badawang � perahu badawang (?)
Prahoe kojan � perahu koyan (?)
Prahoe kroewis � perahu penjelajah
Prahoe majang � perahu mayang
Tandoe tjina � tandu Tionghoa
Tangkap ikan � menangkap ikan

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 23 berisi aneka hal yang tampaknya terjadi di rumah besar seorang tuan Belanda, seperti datangnya tukang arang untuk isi ulang setrikaan, hingga ke pembantu yang main congklak. Ada pula tukang pinatu yang mengambil cucian, di mana di ibu Belanda tampak digambarkan juga memakai kain dan kebaya panjang putih.
Catatan: Dua perempuan bermain congklak mengingatkan pada sebuah posting lama di blog ini.
Main tjongkak (Dakon) � bermain congklak (dakon)
Papan toekang minatoe � papan cuci
Strika � setrikaan
Toekang arang � tukang arang
Toekang minatoe ambil barang � tukang penatu mengambil barang
Toekang potong roempoet � tukang potong rumput
Toekang sapoe � tukang sapu

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 24 atau terakhir menampilkan lagi pedagang, kali ini penjual buah-buahan dan hewan peliharaan. Para pedagang ini ditampilkan tidak mengenakan baju, yang tampaknya memang menunjukan keadaan sebenarnya di masa itu; misalnya pedagang buah, contoh yang fotonya bisa dilihat di posting ini.
Boeroeng gelatik djinak � burung gelatik jinak
Toekang boeroeng bel�k�t � tukang burung ???
Toekang boeroeng serindit � tukang burung serindit
Toekang boewah-boewah � tukang buah-buahan
Toekang kalkoen (ajam blanda) � tukang kalkun (ayam Belanda)
Toekang kelintji � tukang kelinci




Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Tuesday, August 6, 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja (1)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoeka�n Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.

(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Halaman 1: Buku ini dimulai dengan menampilkan rumah Belanda dan para warga lokal yang bekerja atau menjadi pembantu di rumah tuan Belanda ini. Di sini kita akan melihat jenis-jenis profesi yang menjadi kebutuhan sebuah rumah pembesar. Perlu pula dicatat, bahwa para pekerja ini bisa hidup bersama keluarganya di rumah ini, sehingga anak-anak mereka pun terekam di buku ini.
Ajam-ajam � ayam
Anak boedjang � anak pembantu
Baboe anak � pengasu
Boedjang stal � petugas kandang kuda
Koesir � kusir
Kokki � juru masak
Paroet kalapa � memarut kelapa
Roemah blanda � rumah Belanda
Toekang kebon � tukang kebun
Toekang lampo � tukang lampu
Toekang mendjait � penjahit
Toekang sep�n � tukang pembawa makanan

(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Halaman 2: Pencurian tampaknya menjadi hal yang cukup sering terjadi, sehingga buku ini menampilkan satu halaman tersendiri dengan tema ini. Kita melihat para petugas keamanan, dengan orang Belanda sebagai komandan tentunya, peralatan mereka, dan bagaimana cara menangkap pencuri serta menahannya.
Menarik untuk dicatat adanya berbagai macam alat bernama "canggah" serta cara penggunaannya. Serta juga bahwa borgol saat itu bernama "rante" yang merupakan kalung logam yang dipasang di leher pencuri.
Gardoe � gardu
Kris � keris
Oppas � pembantu polisi
Orang rant� � pencuri yang tertangkap
Pendok � sarung keris
Rant� � borgol leher
Tangkap maling � menangkap maling
Tjanggah � canggah
Toewan skout � komandan polisi

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 3: Satu hal yang tampaknya mengesankan orang Belanda saat itu adalah berbagai jenis penggunaan bambu. Buku ini menampilkan beberapa contoh bagaimana orang Indonesia banyak memanfaatkan bambu untuk berbagai macam keperluan.
Almari dapoer � lemari dapur
Bale-bale � dipan (untuk tidur)
Bal�-bal� � dipan (untuk duduk-duduk)
G�t�k bamboe � rakit
Goeboek � saung
Kandang ajam � kandang ayam
Kar�ta anakan � kereta balita
Koeroengan � kandang burung
Pohon bamboe � pohon bambu
Soeling � suling
Soendoeng roempoet � pikulan rumput
Tangga � tangga

(klik untuk memperbesar | � Tropenmuseum)
Halaman 4 bernuansa warna hijau karena berisi berbagai macam pohon.
Boewah kalapa � buah kelapa
Boewah pinang � buah pinang
Gajoeng � gayung
Pohon ar�n � pohon aren
Pohon kalapa � pohon kelapa
Pohon kapok sama kawat � pohon kapuk dengan kawat telegraf
Pohon lontar � pohon lontar
Pohon pinang � pohon pinang
Pohon pisang � pohon pisang
Pohon pisang kipas � pohon pisang kipas
Pohon waringin � pohon beringin
Tandan pisang � tandan pisang

Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum / Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Sunday, July 14, 2019

Jenis-jenis pembantu di rumah Belanda zaman dulu dalam gambar

Babu
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Koki
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Jongos
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)
Tukang menjahit
(klik untuk memperbesar | � zwiggelaarauctions)

Waktu: masa penjajahan Belanda
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Tuesday, May 28, 2019

Aksi Polisionil 1: Sebuah keluarga Belanda mengungsi, 1947

(klik untuk memperbesar | � Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa: Ternyata di saat perang kemerdekaan, bukan hanya rakyat Indonesia yang harus mengungsi, warga Belanda pun harus meninggalkan kediaman mereka, seperti yang dialami keluarga Bloem ini. Tampak Pak Bloem (berbaju putih) ditemani istrinya (paling kanan) dan dua anak perempuannya (paling depan dan belakang) serta pembantunya yang membawa sepeda, pergi meninggalkan komplek perumahan mereka dengan latar belakang tentara Belanda berjaga-jaga. Tampak pula dua anak kecil digendong, serta satu bocah dituntun tanpa alas kaki. Menarik untuk dicatat bahwa para perempuan di keluarga Bloem ini mengenakan kebaya.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Saturday, April 27, 2019

Para pembantu di sebuah rumah besar di Jakarta beserta keluarganya, 1904

(klik untuk memperbesar | � spaarnestad)

Waktu: 1904
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: 1. Tidak ada catatan tentang siapa yang menjadi pemilik rumah tempat para pembantu ini bekerja. Tapi bisa dipastikan seorang pembesar mengingat jumlah pembantu yang bekerja. 2. Kemungkinan besar foto dibuat pada sebuah acara khusus karena pakaian yang dikenakan tampak rapi, istimewa, dan mungkin juga baru. 3. Model kebaya yang dikenakan para perempuan, panjang hingga ke bawah lutut, menunjukan adat Priangan. 4. Ini adalah update foto yang dimuat di posting sebelumnya, kali ini dengan ukuran lebih besar.

Tags